oleh: Nabil Alimsyah-yuhibbuhullah wa yardhahu- (Juara 1 Lomba Pidato Bahasa Indonesia di Usbu’ Tsaqofy ’16)

Dan yang menjadi kebahagiaan terbesar bagi kita dan kedua orang tua kita bagi saya pribadi adalah ketika kita mampu mengantarkan keduanya pada Al Haramain Asy Syarifain, dengan mengantarkannya beribadah haji ataupun umroh.

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
الحمد لله الذي أنزل شهر رمضان شهر القرآن هدى للناس وبينات من الهدى والفرقان. أشهد أن لا إله إلا الله وأشهد أن محمدا عبده ورسوله. صلى الله عليه وعلى آله وصحبه وسلم تسليما

Segala puji bagi Allah, yang telah menurunkan bulan Ramadhan, bulan Al Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang haq dan yang bathil. Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan saya bersaksi bahwa Muhammad adalah Nabi-Nya dan utusan-Nya

“2 jiwa yang paling berharga, tidak ternilai harganya walau dibayar dengan dunia seisinya”

“2 jiwa yang paling dicinta, cintanya tiada matinya, cintanya seputih susu semanis madu”

“2 hati yang paling luar biasa, yang satu sangat peka dan satu lagi sangat perasa”

Ya, itu semua hanya dimiliki oleh kedua orang tua kita.

Kadang hati kita terlalu keras untuk mengikuti lembutnya perintah ibu, sehingga yang muncul hanyalah kedurhakaan baik dari hati maupun perkataan kita, dan yang paling bengal adalah pada perbuatan kita.

 ‏ ‏حدثنا ‏قتيبة بن سعيد ‏‏حدثنا ‏‏جرير ‏عن ‏عمارة بن القعقاع بن شبرمة ‏عن ‏أبي زرعة‏ ‏عن‏ ‏أبي هريرة ‏ ‏رضي الله عنه ‏ ‏قال: ( ‏جاء‏ ‏رجل‏ ‏إلى رسول الله ‏‏صلى الله عليه وسلم ‏‏فقال يا رسول الله ‏من أحق الناس بحسن صحابتي؟ قال أمك قال ثم من قال ثم أمك قال ثم من قال ثم أمك قال ثم من قال ثم أبوك ‏)  ‏وقال‏ ‏ابن شبرمة ‏ويحيى بن أيوب ‏حدثنا ‏‏أبو زرعة ‏مثله ‏

Telah mengabarkan kepada kami Qutaibah bin Sa’id, telah mengabarkan kepada kami Jarir, dari ‘Umaroh bin Al Qa’qa’ bin Syubrumah, dari Abu Zur’ah, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu. ia berkata: “ Suatu saat ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, lalu bertanya: “ Wahai Rasulullah, siapakah yang berhak aku pergauli dengan baik?” Rasulullah menjawab : “ Ibumu.”, lalu siapa? Rasulullah menjawab: “ Ibumu.”, lalu siapa? Rasulullah menjawab: “Ibumu”. Sekali lagi orang itu bertanya: kemudian siapa? Rasulullah menjawab: “Ayahmu.”(HR. Al Bukhari)

Kadang kaki terlalu berat untuk menaati perintah ayah agar bisa berangkat ke masjid yang jaraknya hanya sejengkal demi akhirat yang kekal, justru kekecewaan yang kita ciptakan didalam hati-hati mereka.

Allah -Subhanahu wa ta’ala- berfirman

وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَ بِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ اْلكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُل لَّهُمَا أُفٍّ وَ لاَ تَنْهَرْهُمَا وَ قُل لَّهُمَا قَوْلًا كَـرِيمًا وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَ قُل رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَـمَا رَبَّيَانِى صَغِيرًا

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: “Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (QS. Al-Isra [17]: 23, 24)

Maka sudah kewajiban kita sebagai seorang muslim dewasa yang berpemikiran sesuai umurnya untuk bisa menebus apa yang menjadi kesalahan-kesalahan kita terhadap mereka di masa-masa lampau sampai saat-saat ini. Dan salah satu caranya adalah dengan memenuhi kehidupan kita dengan prestasi-prestasi gemilang, di setiap langkah dan jerih payah kita yang termasuk didalamnya jerih payah dan langkah-langkah kedua orang tua kita.

Dan yang menjadi kebahagiaan terbesar bagi kita dan kedua orang tua kita bagi saya pribadi adalah ketika kita mampu mengantarkan keduanya pada Al Haramain Asy Syarifain, dengan mengantarkannya beribadah haji ataupun umroh.

Terbayang di kepala ketika kita membimbingnya memakai kain ihrom di miqat, kemudian mentalqin mereka agar senantiasa bertalbiyah sepanjang jalan menuju Makkah Al Mukarramah serta menjaga mereka dengan sepenuh hati di tengah lautan manusia ketika thawaf disekitar ka’bah. Hingga sampai pada ibadah sa’i, kita menuntunnya berlari kecil bolak-balik antara bukit Shafa dan Marwah, kemudian berdoa sejenak di hadapannya sambil membimbing keduanya agar senantiasa berdoa.

Maka mungkin dengan cara itu bahagialah hati dan tenanglah jiwa sekaligus bahagialah hati keduanya. Dan selama hal itu belum terwujud maka berteriaklah hati ini dalam setiap do’a,

رب اغفرلي ولوالدي وارحمهما كما ربياني صغيرا

Demikian apa yang bisa saya sampaikan. Saya mohon maaf atas segala kesalahan.

Wa billahi taufiq wal hidayah war ridha wal inayah.

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

 

 

Daftar Pustaka:

  • Al Qur’an Al Karim
  • Al Jami’ Ash Shahih Imam Al Bukhari
Advertisements

One thought on “Hapus Kesalahan Kepadanya Dengan Prestasi Gemilang

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s