Oleh: Nabil Alimsyah -yuhibbuhullah wa yardhahu-

        “Halah, dasar sok suci. Kayak yang paling bener aja idupnya.” Hardik seseorang kepada temannya yang niatnya ingin meluruskan temannya yang dinilainya salah.

Memang lumrah pemandangan seperti ini. Yaitu tentang seseorang yang justru merespon negative orang lain yang niatnya melakukan pengarahan kepada orang yang dinilainya salah. Dari sinilah nampak penting apa yang disebut KOMUNIKASI HARMONIS ANTAR MANUSIA.

Banyak ilmuwan, pakar sosiolog, lulusan ilmu komunikasi, bahkan Nabi kita yang mulia –alaihish sholatu wassalam- yang mereka ini telah menyampaikan bagaimana cara berkomunikasi yang bagus dan mudah dipahami. Bahkan sebagian dari mereka ada yang mengklasifikasikan komunikasi dari yang terendah seperti ngobrol, bincang-bincang tentang sesuatu yang biasa atau sekedar obrolan hiburan, sampai yang kelas tertingginya seperti debat yang mengandung pro-kontra antar 2 pihak dan mereka memiliki argumen masing-masing. Dari sekian banyak dan bermacam-macam variasi komunikasi, maka kita salah jika kita berpikir bahwa debat adalah hal yang tersulit dilakukan. Tetapi yang tersulit adalah menghadapi respon dari lawan bicara kita, terutama respon negatif yang pedas sekaligus menahan hati ketika kita berusaha mengarahkan seseorang dari yang salah kepada yang benar.

Untuk sebagian orang, respon negatif bukanlah sebuah ancaman baginya. Tapi kebanyakan orang berpikir bahwa respon negatif adalah sesuatu yang harus dihindari dalam segala situasi komunikasi. Padahal jika kita mengetahui sebab kenapa justru dia melakukan respon negatif terhadap apa yang kita utarakan; seperti cacian terhadap apa yang kita katakan padanya, bahkan makian sampai tindak kasar terhadap diri kita, maka dari situ kita bisa menjadikan apa yang menjadi caciannya untuk menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Mari penulis contohkan gaya percakapannya.

Fulan B kondisinya tertidur dan adzan sudah berkumandang

Fulan A: (Membangunkan Fulan B) Ayo sholat, adzannya udah selese loh!

Perlu diketahui bahwa Fulan A membangunkan fulan B dengan cara terbaik dan memberitahukannya secara halus

Fulan B: (terbangun) Ah elah, elo lagi, elo lagi. Sono pergi!

Fulan A: (tetap tenang) Kenapa harus marah-marah kalo lagi disuruh sholat? Ayo bangun!

Fulan B: (terhenyak dengan perkataan fulan A kemudian berangkat sholat).

Berdasarkan percakapan diatas, bisa dinyatakan bahwa celah kesalahan fulan B adalah hardikannya terhadap Fulan A dan pada akhirnya Fulan A menjadikannya boomerang yang justru menyerang balik perbuatan sekaligus respon negative Fulan B. kemudian mari kita perhatikan perbuatan Fulan B, tentunya setiap dari kita meyakini tanpa keraguan bahwa mengakhirkan sholat adalah sesuatu yang buruk, dan kita juga yakin bahwa mengajak orang berangkat ke masjid adalah sesuatu yang baik dan pantas untuk dipuji. Tapi mari kita perhatikan respon Fulan B terhadap Fulan A. Yup, sebuah hardikan yang mungkin kebanyakan kita kabur menghindar, tapi tidak dengan fulan A yang justru menjadikan hardikan Fulan B sebagai sesuatu yang justru menyumpal Fulan B dan mengajak otaknya berpikir. Secara tidak langsun pernyataan Fulan A mengajak otaknya berpikir dan mulai menstimulan tubuhnya untuk:

  1. Berhenti marah.
  2. Bangun dari tidur.
  3. Berangkat ke masjid untuk sholat.

Bagaimana? 3 perbuatan baik yang berasal dari 1 respon negative seseorang. Menggiurkan bukan? Walaupun pada realitanya kita jarang menyadarinya dengan cepat tapi mari kita perhatikan contoh diatas ini. Singkat memnag, tapi menyandang 3 kebaikan di dalamnya.

Satu contoh memang sangat kurang untuk membahas segala bentuk respon dari orang lain. Tapi yang satu ini adalah gambaran umum tentang bagaimana seseorang tidak perlu memarahi setiap orang yang melakukan respon negatif. Tapi yang perlu diingat adalah bagaimana cara kita menyampaikan apa yang kita anggap benar. Janganlah kita samakan menegur orang bersifat Fulan B yang short-tempered dengan menegur orang seperti Fulan A yang sifatnya thinker. Tapi tidak jarang juga orang yang short-tempered yang masih bisa berpikir dibawah emosinya. Maka saran dari penulis adalah jangan perhatikan segala apa yang dia ucapkan dan fokus ke emosinya, tetapkan bahwa dia salah, menolak kebenaran dan dia salah, menolak kebenaran dengan emosi.

Datangnya respon dari seseorang bisa bermacam-macam bentuknya. Ada yang dengan lancangnya berbicara langsung baik respon positif ataupun negatif) dan ada juga yang membicarakannya di belakang dan segala bentuk lainnya. Tidak perlu pusing dengan bagaimana cara memberikan respon baik atau buruk apalagi kalau tidak memberikan respon apapun. Yang terpenting adalah cara kita menyampaikannya, dan perlu ditancapkan di benak kita bahwa “ini yang benar, dan itu yang salah”, sehingga ketika dating respon dari orang yang kita sampaikan apa yang kita anggap benar padanya baik itu respon positif maupun negatif, maka kita siap untuk menampakkan bahwa ini yang benar dengan segala bentuk pembuktian dan tentunya pembuktian yang benar pula.

Untuk yang bersalah mari kita sadari bahwa kita punya kesalahan. Dan perlu diyakinkan adalah yang menasihati kita belum tentu juga tidak pernah melakukan kesalahan yang sama, mungkin juga dia pernah bahkan lebih parah dari kesalahan yang kita perbuat. Hanya yang membedakan dia bertaubat lebih cepat daripada kita. Lagi-lagi kembali kepada kita yang bersalah. Kesadaran akan kesalahan itu datang, yang sampai-sampai bisa membuat hati kita menolak melakukannya untuk kedua kalinya.

Pentingnya saling mengingatkan dalam kebenaran akan terasa ketika semuanya sudah terlambat, maka janganlah kita menjadi golongan yang terlambat. Di sebagian lingkungan terlalu banyak terlambatnya daripada sadar di awal waktu. Contohnya terlambat menyadari pentingya mengingatkan kebersihan, sehingga terlanjur sudah semuanya. Terlanjur kotor, terlanjur jorok, sampai-sampai mengundang penyakit. Dan berbagai bentuk keterlambatan lainnya dalam hal mengingatkan dalam kebenaran.

Tapi sayangnya, sedikitnya jumlah ornag yang bermental berani mengingatkan orang lain yang dianggap salah menjadi masalah yang cukup serius di masyarakat kita. Maka ketika kita tidak mampu memperingatkan masyarakat luas maka cukuplah bagi kita mengingatkan orang yang dekat dengan kita; keluarga, teman-teman dan sahabat karib. Sampaikan apa yang kita anggap benar sehingga orang bisa menerimanya tanpa perlu terpancing emosinya dan langsung bisa mengikuti apa yang menjadi kebenaran.

Memang kita bukan makhluk sempurna, ma’shum, bebas dari maksiat dan lepas dari kesalahan. Tapi perlu diingat jika manusia memiliki perasaan yang semuanya itu bisa ditimpakan dalam segala bentuk; baik lisan, tulisan dan perbuatan. Hanya perasaan yang bisa menunjukkan seberapa ingin kita  untuk menjadi yang terbaik dan hanya memiliki teman dari orang-orang terbaik. Sehingga bentuk peringatan dari kesalahan adalah solusi agar kita bisa selalu menjadi yang terbaik dan memiliki orang terbaik di sekitar kita. Ketika kita melihat sesuatu yang menurut kita salah, maka perbaikilah. Hadapi respon yang datang dengan segala daya intelektual diri kita masing-masing. Karena berbicara dengan penuh perasaan adalah cara agar seseorang bisa menyentuh level emosionalitas seseorang dengan cara yang lembut.

Wallahu a’lam bish-showab.

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s