oleh: Rafi Khairullah –yuhibbuhullah wa yardhahu-

“Don’t care what people said. Just do what you should to do.” Itulah yang kupegang saat pertama kali memilih mapel Geografi sebagai langkah awalku untuk mencetak prestasi.

Banyak teman-temanku bilang, “Geografi susah loh koy” “Koy, geografi baru satu orang loh koy yang bisa masuk” Biarkanlah orang berkata apa, aku hanya perlu melakukan apa yang harus aku lakukan, yaitu belajar. That’s one.

Bermodalkan buku rujukan, (maksudku buku pinjaman, benar-benar buku pinjaman, karena aku tidak memiliki buku geografi sendiri), soal-soal dari ustadz dan kak Digna Aisya (kakak temanku), aku mulai belajar di sisa 2-3 hari sebelum seleksi sekolah.

Dan entah beruntung atau sial, di sore terakhir sebelum seleksi sekolah, aku menemukan dan membaca soal yang bisa dibilang sama persis dengan soal seleksi. Kenapa kusebut sial? Karena nanti, saat lulus seleksi dan belajarr dengan ustadz, akan terlihat mana santri yang lulus gara-gara hoki nemu soal yang sama, dan santri yang lulus karena benar-benar belajar.

Di saat temanku aktif menjawab pertanyaan-pertanyaan dari ustadz, aku hanya bisa bengong memperhatikan mereka. pengunguman seleksi pun tiba. dan yah, katanya aku mendapatkan peringkat pertama dalam seleksi tersebut. Iya, ‘KATANYA’. Maka resmilah aku menjadi calon peserta Olimpiade Sains Kabupaten.

Dan seperti apa yang telah kubilang tadi, aku mulai kelihatan seperti orang bodoh yang tidak tahu apa apa saat aku dan teman-teman belajar dengan ustadz. Pastinya tidak mungkin bagiku membiarkan hal tersebut terus berlangsung kan? Siapa juga yang mau kelihatan bodoh di depan ustadznya?

Maka di hari pertama karantina, aku pun mulai mengejar ketertinggalanku yang bisa kubilang cukup jauh. Alhamdulillahnya, selama di masa-masa karantina, aku dan peserta OSK yang lain diberi izin untuk tdak mengikuti KBM, dan ditambah dengan uang jajan tiap hari yang tentunya membuatku lebih semangat.

Dimulai dari buku geografi dari kelas 10 sampai kelas 12 yang harus kupelajari point per point, materi per materi sampai bab per bab yang hampir semuanya belum pernah kupelajari. Bisa kalian bayangkan, pelajaran buat 8 semester selama 3 tahun harus kupelajari hanya dalam waktu 2 pekan?! Kurang apa coba?!

Dan tentunya belajar 8 jam sehari kadang membuat kita bosan kan? Apalagi kalo pelajaran yang harus dipelajari sama. Itulah yang aku dan teman-temanku rasakan di masa-masa karantina.

Maka dengan laptop yang kami bawa -legal- kami mulai melakukan kebandelan-kebandelan seperti bermain game, omegle-an, sampai terkadang streaming youtube, dan kebandelan yang tidak bisa disebutkan. Hehehe

Sampai pada akhirnya aku pun mulai aktif menjawab pertanyaan-pertanyaan ustadz dan lebih mudah menjawab soal-soal latihan.

Biar kuberi tahu kalian satu hal. Jangan pernah menganggap geografi hanya mempelajari penduduk lah, tanah lah. Karena yang namanya geografi tuh mempelajari segala sesuatu tentang bumi, lempengan, atmosfer, sampai pada pengetahuan umum yang kadang aneh-aneh. Misalnya, “Apa nama suku yang terdapat di film Apocalypse?” Itu soal OSK 2013, ya mana tau kan-__-ya kali kita harus cari terus nonton filmnya buat tau jawabannya. Kan gak mungkin?

Dan mulai dari 2-3 hari sebelum OSK, frekuensi ibadah pun ditingkatkan, agar Allah ta’ala memudahkan kita semua. Dan tidak lupa, DOA IBU (ini penting bro). Yap, minta doa ke orang tua terutama ibu adalah hal yang tidak mungkin aku lupakan.

Dan hari itu pun tiba. Hari dimana kami akan maju melawan puluhan sekolah memperebutkan kemenangan. Pagi itu kami saling membangunkan satu sama lain untuk segera mandi, karena rencana kami akan berangkat jam 04.30, atau sebelum shubuh.

Maka, setelah briefing sebentar dengan ustadz, kami semua mulai memasuki bus dan pergi menuju lokasi dengan membawa harapan ustadz, teman-teman, seluruh santri, bahkan mungkin juga karyawan (?)

Setelah di lokasi, ternyata Al Binaa adalah sekolah pertama yang sampai. Dan kegiatan pertama kali adalah sarapan.

Karena waktu yang masih lama, maka waktu setelah sarapan kami manfaatkan untuk muroja’ah pelajaran. Sampai datanglah sekolah-sekolah seperti SMA Presiden dengan kacamata dan jas biru mereka, IIBS dengan badan tegap dan pakaian mereka yang seperti tentara yang itu semua membuat kami ragu.

Sampai tibalah waktu memasuki kelas yang dimana setiap kelas berisikan siswa dengan 2 mapel yang berbeda. Untuk geografi digabung dengan ekonomi. Jadi santri putra maupun putri -yang mengikuti satu dari keduanya- digabung dalam satu ruangan.

Dan entah karena apa, ada beberapa diantara kami yang langsung bersebelahan dengan santri putri (ini nyebelin banget asli). Katanya, pihak penyelenggara tidak sempat mengacak nomor registrasi pendaftaran, sehingga ada yang bersebelahan.

Setelah selesai, kami menunggu sampai sore untuk pengunguman juara. dan ternyata aku hanya berhasil menempati posisi ke-5 -alhamdulillah- dengan poin 138 yang dimana juaranya mulai dari peringkat 1-4. Dan aku hanya beda 1 poin dengan anak yang berada di posisi ke-4. (Nyesek bro)

Yah, itulah pengalamanku selama membela Al Binaa di OSK. Walaupun aku kalah sih. Tapi semoga pengalaman ini bisa menjadi pelajaran bagiku untuk kedepannya.

Terima kasih banyak kepada teman temanku, Ustadz Indra -hafizhahullahu ta’ala- dan kak Digna Aisya yang telah mensupport aku walaupun aku tidak berhasil untuk tahun ini. Semoga di kedepannya aku bisa mendapatkan yang lebih dari ini.

SEMANGAT 17!

 

Bekasi, 28 April 2015

Dibawah tatapan Ustadz Agung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s