oleh: Naufal Ristilanang -yuhibbuhullah wa yardhahu-

“Eh, sob, tau gak? Si fulan tuh bla..bla..bla..bla…” Kata si A.

“AHAHAH. Yang bener tuhh?? Dasar ****** (sensor)” Sambung si B.

Bincang-bincang sama temen emang gak terpisahkan dari hidup kawula muda. Apalagi ngomongin bola. Wah, bisa seharian tuh. Ditambah dengan makanan ringan dan lain lainnya. Jos Gandos lah!

Masalahnya ya, kalo nih mulut dipake buat maksiat bareng; ngomongin orang lah, ngejek lah, atau sederet maksiat yang emang biasa dilakukan kalo lagi ngobrol sama sohib. Wah bisa berabe dunia akhirat noh!

Allah ta’ala berfirman: “Wahai orang orang yang beriman, janganlah suatu kaum mencela kaum yang lain….” (QS. Al Hujurat: 11)

lisan.pngAllah ta’ala juga berfirman: “….dan janganlah sebagianmu meng-ghibah sebagian yang lain” (QS. Al Hujurat: 12)

Seringkali setan -la’natullah alaihi- masuk ke majelis obrolan kita dan membisikkan hal-hal yang negatif ke pikiran kita. Terucap oleh kita, dan disambung oleh teman kita, jadilah majelis ghibah, rafats, dan kefasikan. Na’udzubillah.

Padahal Nabiyyuna -alaihish sholatu wassalam- bersabda: “Seorang muslim adalah dia yang saudaranya selamat dari (keburukan) lisan dan tangannya” (Muttafaq ‘alaih)

Maka bagaimana bisa seseorang dikatakan muslim tapi dia masih sering meng-ghibahi saudaranya?

Coba kita lirik bagaimana Rasulullah -alaihish sholatu wassalam- berbicara, berbincang, dan tersenyum.

Imam Ibnu Qoyyim -rahimahullah- berkata di kitabnya, Zaadul Ma’ad: “Dan adalah beliau banyak diam, tidak berbicara kecuali ada tujuan. Dan beliau berkata dengan perkataan yang ringkas tapi padat makna.”

Tentang tertawanya beliau, beliau -Imam Ibnu Qoyyim- melanjutkan: “dan tertawa beliau adalah senyuman.”

Bahkan Rasulullah -alaihish sholatu wassalam– pernah tertawa sampai terlihat gigi gerahamnya. Bukan terbahak-bahak sebagaimana yang sering kita lakukan, bahkan dengan suara keras.

Allah ta’ala berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian tinggikan suara kalian diatas suara Nabi. Dan janganlah kalian keraskan perkatan kalian kepadanya seperti kerasnya suara kalian kepada yang lain. Karena amalmu bisa terhapus sedangkan kalian tidak sadar.” (QS. Al Hujurat: 2)

So, ngobrol bareng temen boleh aja, tapi jaga ya adab-adabnya. Jangan keasyikan sampe lupa waktu. Jangan juga ngomongin orang. Rugi dunia akhirat looohhhh…..

Wallahu ta’ala a’lam bish-showab.

 

Sumber:

  • Al Qur’an Al Karim
  • Al Jami’ Ash Shahih
  • Zaadul Ma’ad

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s