oleh: Obbie Aufansyah –yuhibbuhullahu wa yardhahu-

Dia memberi hamba-Nya sebelum ia meminta dengan pemberian yang jauh lebih baik dibandingkan dengan apa yang diharapkan.

Saudaraku seiman. Ketahuilah. Semua hal yang Allah karuniakan kepada hamba-Nya yang mu’min, merupakan faktor pendorong untuk mencintai-Nya. Baik perkara tersebut disukai maupun dibenci oleh seorang hamba.Pemberian, pencegahan, keselamatan, cobaan, keadilan, karunia, kematian, kehidupan, kasih sayang, kebaikan, rahmat, pemaafan, santunan, kesabaran-Nya atas perilaku hamba, pengabulan-Nya terhadap doa hamba, dan pertolongan-Nya terhadap kesusahan parah hamba meskipun Dia tidak membutuhkan mereka.

Bahkan Dia Mahakaya dan tidak butuh terhadap sesuatu pun dari segala sisi. Terlebih lagi, Dia membiarkan, menutupi, dan menjaga hamba ketika berbuat maksiat, sampai-sampai ketika hamba tersebut menggunakan nikmat-nikmat Allah untuk bermaksiat kepada-Nya.

Padahal, sekiranya seseorang berbuat sebagian kecil dari perkara tadi kepada sesama hamba, tentu hamba tersebut tidak mampu mengendalikan hatinya untuk mencintai orang tadi.

Berdasarkan penjelasan tersebut, bagaimana mungkin seorang hamba tidak cinta dengan sepenuh hati dan anggota tubuhnya kepada Dzat yang senantiasa berbuat baik kepadanya, sementara ia justru berbuat buruk kepada-Nya? Kebaikan-Nya selalu turun kepada hamba, sedangkan keburukan hamba selalu naik kepada-Nya.

Dia mencintai hamba dengan memberikan nikmat kepadanya, padahal Dia sama sekali tidak membutuhkan hamba tersebut. Sebaliknya, hamba tersebut membuat-Nya murka dengan kemaksiatan, padahal dia faqir kepada-Nya.

Kebaikan dan nikmat-Nya tidak menghalangi para hamba untuk berbuat durhaka kepada-Nya.

Demikian pula, kemaksiatan dan kerendahan hamba tidak memutuskan kebaikan Rabb Tabaraka wa Ta’ala kepadanya.

Mungkinkah seorang hamba tidak malu terhadap Rabb dalam keadaan yang demikian, yaitu tatkala dia justru berpaling dari-Nya dan hatinya tenggelam dengan mencintai selain-Nya?

Saudaraku seiman. Diantara kezhaliman dan kebodohan yang paling besar adalah mencari keagungan dan kebesaran dari sesama manusia, sedangkan hatinya luput dari mengagungkan dan membesarkan Allah. Maksudnya, Anda ingin dilihat sesama manusia setelah Anda memuliakannya, sementara Anda tidak mengagungkan Allah padahal Dia melihat anda melakukan itu.

Allah ta’ala berfirman,

 ما لكم لا ترجون لله وقارا

“Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah?” (QS. Nuh [71]: 13)

Ayat ini menanyakan alasan mengapa Anda tidak memperlakukan Allah sebagaimana yang Anda lakukan pada sesama manusia yang Anda muliakan? Kata “At-Tawqiir”, yakni mashdar dari kata “wiqaara”, bermakna sama dengan kata “Al-‘Azhamatu” yang artinya besar atau agung.

Al Hasan Al Bashri menerangkan maksud surat Nuh ayat 13, mengapa Anda tidak mengakui hak Allah dan tidak mensyukuri pemberian-Nya?

Ibnu ‘Abbas mengartikan, mengapa kamu tidak mengenali hak kebesaran-Nya?

Semua pendapat itu bermuara pada satu makna, yaitu seandainya manusia membersarkan Allah dan mengenali hak kebesaran-Nya, niscaya mereka akan mentauhidkan-Nya, menaati-Nya, dan mensyukuri-Nya. Dengan kata lain, kadar ketaatan kepada Allah, upaya menghindari maksiat, dan rasa malu kepada-Nya adalah sebesar kadar kebesaran-Nya di dalam hati hamba.

Saudaraku seiman. Allah telah menciptakan segala sesuatu untukmu di dunia dan akhirat. Jadi siapakah yang lebih utama daripadaNya untuk dicintai dengan sebenar-benarnya dan digapai keridhaan-Nya?

Segala tuntutanmu. Bahkan tuntutan seluruh makhluk, berada di sisi-Nya. Dialah Dzat yang Maha Pemurah.

Dia memberi hamba-Nya sebelum ia meminta dengan pemberian yang jauh lebih baik dibandingkan dengan apa yang diharapkan.

Tidaklah suatu pendengaran melalaikan-Nya dari pendengaran lainnya. Dia tidak dibuat susah oleh banyaknya permintaan dan tidak bosan oleh sikap memelas hamba-Nya dalam doa.

Bahkan, Dia mencintai hamba yang memelas dalam doanya.

Dia sangat suka diminta dan justru murka jika tidak diminta.

Dia malu terhadap hamba-Nya, padahal hamba-nya tidak malu dari-Nya. Dia menutup aib hamba-Nya, padahal hamba tersebut tidak menutup aibnya sendiri. Dia mengasihani hamba-Nya, padahal hamba tersebut tidak mengasihani dirinya sendiri.

Dia menyeru hamba kepada kenikmatan dan kebaikan-Nya, serta mengajaknya kepada kemuliaan dan keridhaan-Nya, tetapi hamba tersebut enggan.

Bagaimana mungkin kita tidak mencintai Allah? Kita mengenal Allah tapi kita tidak mencintai-Nya. Kita mendengar seruan orang mengajak kepada-Nya, tetapi kita tidak segera memenuhinya. Kita mengetahui kadar keuntungan berinteraksi dengan-Nya, tetapi kita justru berinteraksi dengan sesuatu selain-Nya. Dan kita mengenal kadar kemurkaan-Nya, tetapi kita malah datang dan menentang-Nya.

Kita merasakan pahitnya kegelisahan karena maksiat kepada-Nya, tetapi kita tidak mencari kedamaian hati dengan taat kepadanya. Kita merasakan kekeruhan hati ketika tenggelam dalam pembicaraan selain pembicaraan-Nya atau tentang-Nya, tetapi kita tidak merasa rindu untuk memperoleh kelapangan dada guna mengingat dan bermunajat kepada-Nya. Kita merasakan siksaan ketika hati mencintai selain-Nya, tetapi kita tidak berusaha melarikan diri dari siksaan itu menuju nikmat-Nya dengan berserah diri di hadapan-Nya dan kembali bertaubat kepada-Nya.

Kita tahu bahwasanya kita pasti membutuhkan-Nya, bahkan Dialah yang paling kita butuhkan, tetapi kita justru berpaling dari-Nya dan berusaha menggapai sesuatu yang membuat kita semakin jauh dari-Nya.

Saudaraku seiman. Allahlah yang paling berhak disebut, disyukuri, disembah dan dipuji. Dialah yang Maha Melihat untuk digapai, Mahabelas kasih untuk dimiliki, Yang paling dermawan untuk diminta, Yang paling luas pemberiannya, Maha Penyayang untuk dimintakan rahmat, Mahamulia untuk dituju, Mahaperkasa untuk bersandar, dan Mahamencukupi untuk bertawakkal.

Dialah Allah, Yang Maha Melihat dan Maha Mendengar, yang Maha Meridhai dan Maha Memurkai, Yang Maha Mencintai dan Maha Membenci, serta yang mengurus urusan kerajaan-Nya.

Dialah yang mengatur kerajaan-Nya sendiri, mendengar dan melihat, memberi dan menahan, memberikan pahala dan menghukum, memuliakan dan menghindakan, meciptakan dan memberi rezeki, menghidupkan dan mematikan, menentukan hukum, serta menetapkan takdir dan mengatur ciptaan-Nya. Segala urusan makhluk, kecil maupun besar, datang dan kembali kepada-Nya. Tak ada satu benda pun, sekecil apapun ia, yang bergerak tanpa izin-Nya. Dan tak ada selembar daun pun yang jatuh melainkan dengan sepengetahuan-Nya.

Dialah yang berada di atas ‘Arasy-Nya; Yang berbicara, memerintah, dan melarang hamba-Nya. Dia pun mengutus para Rasul-Nya ke seluruh penjuru kerajaan-Nya dengan pembicaraan yang dapat diperdengarkan kepada siapapun dari makhluk-Nya yang Dia kehendaki.

Dialah Yang menegakkan keadilan, membalas perbuatan baik dan buruk, Maha Penyantun, Maha Pengampun, Maha Mensyukuri, Maha pemurah, lagi Maha Berbuat baik. Dia juga disifati dengan segala kesempurnaan, Yang Maha Suci dari segala cela dan kekurangan, dan tidak ada sesuatu pun yang menyerupai-Nya.

Dialah Maharaja, yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Maha Esa, tidak ada tandingan untuk-Nya. Segala sesuatu akan binasa kecuali Allah. Tidak ada yang ditaati, melainkan dengan izin-Nya. Dan tidak ada yang didurhakai melainkan dengan ilmu-Nya. Dia ditaati. Dia didurhakai, namun tetap memberikan ampunan. Dia memberikan maaf walaupun hak-Nya disia-siakan.

Dialah saksi yang paling dekat dan penjaga yang paling mulia. Dialah yang paling menepati janji dan paling menegakkan keadilan. Dia membatasi jiwa, memegang ubun ubun, menetapkan akibat semua perbuatan, serta menutup ajal makhluknya. Semua hati tertuju kepada-Nya. Di sisi-Nya rahasia menjadi terang terangan dan perkara ghaib menjadi terungkap.

Segala sesuatu mengadu kepada-Nya. Semua wajah mengharapkan wajah-Nya. Seluruh akal tidak mampu mengetahui hakikat-Nya. Fitrah dan dalil lainnya menunjukkan bahwa tidak mungkin ada yang menyerupai-Nya. Dengan cahaya wajah-Nya, teranglah seluruh kegelapan, langit, bumi dan keadaan seluruh makhluk menjadi baik.

Dia tidak tidur dan memang tidak layak untuk tidur. Dia menurunkan dan meninggikan neraca keadilan. Diangkat kepada-Nya amal malam hari sebelum siang hari, serta amal siang hari sebelum malam hari. Hijab-Nya adalah cahaya. Yang sekiranya disingkap, pasti cahaya wajah-Nya membakar seluruh makhluk yang tersingkap oleh-Nya.

Saudaraku seiman. Apa kira-kira yang dapat diakukan oleh seseorang yang ubun-ubunnya dan jiwanya berada di tangan Allah, hatinya berada diantara dua jari dan jemarinya; Dia yang berkuasa membolak-balikkan hati itu sekehendak-Nya? Hidup dan matinya pun ada di tangan-Nya. Kebahagiaan dan celakanya ada di tangan-Nya. Gerak diamnya, juga ucapan dan perbuatannya semata-mata terjadi berkat izin dan kehendak-Nya. Ia tidak dapat bergerak, kecuali dengan seizin-Nya, tidak mampu pula mampu berbuat, kecuali dengan kehendak-Nya.

Seorang hamba menyerahkan setiap urusannya kepada diri sendiri, berarti ia telah menyerahkan semua itu pada kelemahan, kesia-siaan, kelalaian, dosa dan kesalahan. Jika dia menyerahkan semua itu kepada makhluk selain dirinya, berarti ia telah menyerahkannya pada sesuatu yang tidak dapat memberikannya bahaya maupun manfaat, kematian maupun kehidupan, dan yang tidak mampu untuk membangkitkan segala yang sudah mati. Apabila Allah membiarkan hamba itu pada kondisi demikian, niscaya ia akan dikuasai oleh setan dan dijadikan tawanannya.

Maka, jelas sekali bahwa seorang hamba tidak dapat berlepas dari Allah walaupun sekejap mata pun. Bahkan, selama masih bernapas, ia pasti membutuhkan Allah dalam setiap bagian terkecil kehidupannya, baik lahir maupun batin. Kefakiran hakikilah yang membuat setiap hamba amat membutuhkan Allah. Ironinya, hamba selalu menyalahi aturan Allah dan berpaling dari-Nya, serta membuatnya benci karena kemaksiatan yang diperbuatnya. Meskipun pada hakikatnya setiap hamba benar-benar butuh kepada Allah dalam semua hal, tetapi ia tidak mengingat-Nya, bahkan melupakan-Nya begitu saja. Padahal, ia pasti akan kembali kepada-Nya dan akan berdiri di hadapan-Nya di akhirat kelak.

Sumber:

  • Ad Daa’ wa Ad Dawaa’
  • Fawaidul Fawaid
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s